Wobblywobble

Sementara

Sementara. Teduhlah, hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara. Ingat lagi mimpi
Juga janji-janji
Jangan kau ingkari lagi

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Jangan henti disini

Sementara. Lupakanlah rindu
Sadarlah, hatiku
Hanya ada kau dan aku
Dan, sementara. Akan kukarang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua

Percayalah, hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Untuk sementara saja

Float

Jangan henti disini. Ingat lagi mimpi.

Advertisements

Aurora

Maliq & D’Essentials – Aurora

Ini jadi bulan ketiga yang terlewat. Maafkan. Karena ini fase yang berat pula. Semoga kita segera bertemu dengan aurora ya.

Hampir. Lagi.

Hampir saja, ini terlewatkan lagi. Jangan sampai. Kenapa semakin sulit menemukan celah? Untuk sedikit saja berkisah. Untuk sedikit saja mengabadikan. Lumayan sedih :(

Hello There!

Long time no see. Kurindu.

Katalisator

Daliana Suryawinata, SHAU Architect on Kick Andy edisi 5 Juni 2015

Mendengar tentang SHAU sudah sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu. Sewaktu awal-awal masuk kuliah, masih segar ingin cari tahu, arsitektur itu bagaimana. Waktu itu zamannya jurusan sedang getol mendatangkan banyak praktisi untuk mengisi seminar dan kuliah tamu (yang sekarang rasa-rasanya semakin berkurang intensitasnya, padahal acara kaya gitu seru sekali diadakan di kampus).

Waktu itu yang datang mewakili SHAU adalah Florian. Dia sudah bercerita tentang micro libraries dengan konsep seperti vending machine. Florian juga bercerita tentang banyak kasus, seperti OMA dan MVRDV. Baik hasil yang saya dapatkan di seminar Florian dan googling internet, dominasi SHAU tampaknya memang di proyek-proyek sosial. Proyek kecil tapi detail yang memang nyata dampaknya di lapangan. Waktu itu saya tidak tahu kalau ternyata ada sosok besar lain di balik SHAU, selain Florian.

Dipertemukan lagi dengan Florian beberapa bulan lalu di Bandung. Kali ini beliau tidak sendiri, ada Ibu Daliana Suryawinata, yang ternyata adalah istri Florian, sekaligus jebolan OMA langsung di bawah Rem Koolhaas. Membaca riwayat singkat Ibu Dana, membuat saya berpikir, bisa lho seorang wanita, arsitek, mencapai level seperti beliau dan ya, saya seperti menemukan sosok panutan (well, saya memang kurang suka Zaha Hadid, baik dari segi desain maupun kehidupan pribadinya hahaha if you know what I mean).

Pada pertemuan di Bandung ini, Dana dan Florian lebih menceritakan proyek super-kampong mereka di Muara Angke Jakarta Utara. Bagaimana suka duka mereka keluar masuk gang-gang sempit untuk mencari tahu kebutuhan masyarakat dan keinginan masyarakat. Satu pertanyaan menarik dari salah satu peserta seminar,

‘Apakah proyek sosial kalian berbayar?’

Mereka dengan tegas menjawab, ‘Ya, kami sudah menekankan sejak awal bahwa kerja kami tidak gratis. Kerja kami profesional. Ada tim yang harus kami akomodasi dan jaga. Jadi, ya, kami tidak gratis.’ Namun mereka menegaskan pula, bahwa SHAU hanya bekerja untuk mereka yang satu visi misi dengan SHAU. Hal ini juga telah disebutkan Dana di dialognya dengan Andy.

Satu istilah menarik yang dikemukakan Dana tentang pemimpin-pemimpin muda Indonesia saat ini; katalisator. Seperti contoh, Ridwan Kamil adalah arsitek luar biasa. Jabatannya sebagai walikota sekarang adalah katalis untuknya, mewujudkan mimpi-mimpi beliau untuk Bandung. Katalis. Mempercepat. Mempermudah. Fenomena ini menjadi menarik, melihat keadaan Indonesia saat ini yang serba melambat. Mungkin kurang tadi ini, katalisator, seseorang yang mencintai apa yang dikerjakannya dan didukung oleh birokrasi. Begitu juga dengan SHAU. SHAU mendekat pada Ahok dan Jokowi dan Kang Emil, yang mereka rasa satu visi dengan SHAU. Karena beliau-beliau inilah katalisator bagi SHAU untuk mewujudkan mimpi Ibu Dana melihat kota di Indonesia, Jakarta khususnya, menjadi lebih layak huni. Dan tidak dapat dipungkiri, pemerintah-lah satu-satunya gerbang.

Saya juga pernah berdiskusi ringan dengan salah satu teman kuliah; arsitektur di Indonesia ini masih asing, seperti alien (saya menyadarinya ketika menonton Kick Andy ini, saya kurang nyaman melihat penjelasan Ibu Dana, rasanya seperti beliau menahan sesuatu, seperti tidak bisa menjelaskan dengan tepat dengan bahasa arsitektur, dan Anda juga mungkin menyadarinya juga, ketika Anda bosan membaca tulisan saya hahaha). Padahal arsitektur itu tidak melulu hanya bangunan. Arsitektur itu pola pikir, cara pandang, bahkan gaya hidup seseorang dalam melihat dan menyelesaikan masalah. Bahkan hal kecil sekalipun, dapat diselesaikan dengan pola pikir arstektural. Tapi lagi-lagi, saya bicara dengan gaya arsitektural lagi. Bicara dengan gaya yang belum tentu dipahami orang lain. Arsitek senang itu. Tapi bagaimana arsitektur bisa membumi jika arsiteknya tinggi ego begitu? Hehehe ini saya juga masih belum bisa jawab.

Tapi satu jawaban yang dapat saya simpulkan; katalisator. Arsitek harus segera menemukan katalisator yang sesuai dengan visi misi mereka. Tentu saja yang diharapkan adalah visi misi yang dapat membawa perubahan ke Indonesia yang lebih baik. Tahu apa yang kamu impikan, tahu apa yang kamu inginkan, mampu mevisualisasikan dengan baik, dan konsisten meraihnya. Then it’ll find the way.

Seperti ucapan dari Putri Pandora di hari saya sidang, ‘Semoga ilmunya bermanfaat untuk masyarakat Indonesia :)’ Aamiin. Bismillah.

#14 Paradesc 2015: Berundak Dagang

PRD 043_1

PRD 043_2

PRD 043_3

Berundak Dagang

Parahyangan Design Competition 2015: Developing People Through Space

2nd Winner

Dewan Juri: Yu Sing – Ir. Yuswadi Saliya, M.Arch, IAI, LSAI. – Agus R. Soeriaatmadja (IALI)

Tim: Anggoro Setia Budhi, Darmawan Hartono Utomo, Ardianti Savitri Anggiasari

Finally Bandung!

Seperti yang sudah menjadi ekspektasi, Bandung adalah salah satu kota keren yang harus dikunjungi lagi suatu saat nanti. Kami tiba di Bandung tengah malam di hari Sabtu. Beruntung, karena kami tidak perlu merasakan macetnya kota Bandung, namun tetap bisa menikmati hiruk pikuk anak muda Bandung di malam minggu. Sepanjang jalan dari stasiun ke hotel, saya cuma bisa bilang “Wow bagus” “Waaaa keren” “Super hip” dan lain-lain.

Tempat presentasi Paradesc 2015 ada di Bumi Sangkuriang, Bandung Utara. Dimana kawasan tersebut notabene kawasan elite. Kanan kiri rumah ala-ala arsitektur masa kini berdiri dengan harmonis. Site impian semua mahasiswa arsitek untuk bikin rumah hahaha. Cuacanya, arsitekturnya, lansekapnya.

Bandung juwarak!

Tema Paradesc, yang diadakan oleh Universitas Katolik Parahyangan tahun ini adalah Developing People Through Space. Bagaimana PKL pada saat ini menjadi permasalahan kota yang tidak mudah diselesaikan. Sayembara ini meminta peserta untuk bagaimana ‘mencerdaskan’ user baik PKL maupun masyarakat dengan desain arsitektural. Site yang berada di lahan kosong belakang Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, ‘memaksa’ kami untuk membaca TOR berulang kali. PKL dan taman. Dua hal yang terlalu luas dan sulit dirangkum dengan ide baru. Untuk detail karya kami dapat dibaca di panel.

Sampai semua finalis selesai presentasi, Yu Sing menegaskan bahwa tidak ada satupun karya dari finalis yang mencerminkan PKL itu seperti apa. Tidak ada finalis yang secara dalam mempelajari perilaku dan kondisi PKL di lapangan. Memang bukan hal arsitektural, tapi tidak pantas untuk dilupakan. Yu Sing kira-kira berkata seperti ini, “Tidak ada PKL yang hadir disini kan? Kalau ada, mereka bisa marah-marah lihat begini.” Pukulan telak :”

Meski begitu, menurut Pak Yus, penilaian dan pemilihan juara harus ada. Tidak ada karya yang sempurna. Tapi ada karya yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Sepanjang Yu Sing, Pak Yus dan Pak Agus memberi wejangan penutup mereka, saya pribadi, mempertanyakan lagi saya ini akan jadi apa ke depannya. Apa saya ini telah paham tentang arsitektur yang memanusiakan manusianya? Apa saya ini bisa terjun ke dunia nyata (sebentar lagi) dengan ilmu saya yang masih berbutir? Pukulan telak lagi :”

Selain presentasi, ada talkshow dari SHAU mengenai proyek komunitas mereka di Muara Angke, Taman Film Bandung dan micro libraries di beberapa titik kota Bandung. Menginspirasi bagaimana SHAU mencoba mempertahankan idealisme mereka, baik dalam komunitas maupun profesionalitas. Tapi yang menjadi favorit saya bukan Florian atau Ibu Daliana, tapi putra mereka-yang-ganteng-banget-dan-hiperaktif-dan-menggemaskan, yang bikin heboh kursi penonton karena dia ingin naik ke panggung bareng ayah ibunya. Meskipun udah dijaga oleh eyangnya dan dirayu-rayu panitia buat duduk tenang, toh dia akhirnya menemukan celah buat naik ke panggung. Jadi dari tengah talkshow sampai akhir, Florian dan Ibu Daliana bercerita sambil mangku putra mereka yang kini tenang. How cute! Semoga besok aku dan suamiku bisa sedekat itu sama anak meski kami sama-sama bekerja :3 *salah fokus wooooooooi!* *maap*

Sebagai penutup, berikut adalah tim juara dari Parahyangan Design Competition 2015:

Juara 1: Universitas Katolik Parahyangan

Juara 3: Universitas Indonesia

Juara 4: Universitas Gadjah Mada

Juara 5: Universitas Katolik Parahyangan

Alhamdulillah. Sampai jumpa di portofolio selanjutnya ;)

#13 Architecture Festival 2015: Resurrection Show

021_1

021_2

021_3

Ressurection Show: Tobong Cultural & Community Center

Architecture Festival 2015 Visionary Bamboo Architecture – National Competition

1st Winner

Dewan Juri: Yori Antar – Budi Pradono – Bisatya W.

My Dream Team: AAW

Alhamdulillah. Setelah sekian usaha, uji coba dan kegagalan, akhirnya kerja keras itu terbayarkan juga. Meskipun sedikit terlambat, tapi lebih baik dari tidak sama sekali. Untuk saya pribadi, ini adalah sayembara saya yang ke-10. Iya, sepuluh. Dan pertama kalinya yang menjadi juara pertama :)

Super salute untuk my dream team. Tim paling solid yang pernah saya rasakan. Beberapa sayembara di awal, masih coba-coba loncat ke tim sana, tim situ. Hingga akhirnya bertemu mereka berdua. Sama-sama keras kepala, ketiganya. Sama-sama gamau kalah, ketiganya. Sama-sama dominan, ketiganya. Sama-sama pemalas, jelas. Tapi ada banyak masa dimana pemikiran kita selalu sejalan, saling mengembangkan, dengan sedikit hujat-menghujat. Terima kasih :) Ayo, ada satu lagi tantangan terdekat di depan kita. Semoga berjalan lebih mantap lagi. Bismillah.

Di awal tahun ini, saya iseng berpartisipasi di event instagram #tujuhsketsa #sesidua yang dimotori kakak senior saya. Tema kali ini adalah segala tentang mimpi dan bucket list-mu di tahun 2015. Subtema hari kesekian adalah tempat yang ingin kamu kunjungi tahun ini. Jawaban saya: Cilegon – Bandung – Surabaya. Kenapa? Bisa di cek ke akun ig saya @njikek (lhah malah promosi haha).

Surabaya. Menjadi kota pertama yang saya coret dari to do list setelah presentasi Archfest 2015 ini selesai dan membawa hasil yang luar biasa :) Bertemu Pak Yori Antar dan Budi Pradono yang luar biasa menginspirasi saya waktu itu, tentang bagaimana kita memilih, akan berarsitektur yang seperti apa? Bertemu kawan-kawan calon arsitek lain. Menginjakkan kaki ke kota baru dengan usaha sendiri, belajar, menyaksikan, mengamati, meskipun gagal membawa pulang almond crispy cheese yang melegenda hahaha.

Bandung. Insya Allah menjadi kota kedua yang akan saya coret dari to do list saya dalam minggu ini. Doakan saja persiapannya lancar, dan kami bisa membawa pulang hasil yang terbaik dan bisa bertemu dengan inspirator hebat lainnya :) Aamiin. Bismillah.

Ini masih bulan kelima di 2015, dan sudah akan ada 2 mimpi tertulis saya yang tercapai. Subhanallah. Bagaimana jika kita terus bermimpi, meski hanya mimpi kecil dan kadang terlupa, jika kita berusaha dan mau fokus, Tuhan akan menunjukkan jalan-Nya. Dengan cara apapun. Insya Allah.

(kemudian buka ig, lihat lagi mimpi-mimpi apa yang tertuang di karya #tujuhsketsa #sesidua saya. hahaha)

Saya malah tidak membicarakan soal karya sama sekali ya hahaha. Bisa diklik gambar untuk diperbesar dan dibaca panelnya. Semoga cukup jelas :) kita bisa berdiskusi di nyata untuk cerita lebih lanjut.

Teruslah bermimpi. Dan percaya bahwa yang kau lakukan dengan sungguh-sungguh, tak akan sia-sia.

Dirgahayu KMTA Wiswakharman. Juara. Teruslah Juara!

Lost My April

Again. Pft. Kehilangan 2 bulan tahun ini. Cerita yang disimpan, kemudian baru ditulis beberapa bulan kemudian itu, basi nggak sih?

#12 Provident Residential Competition 2014: The Oasis

C-301013 Provident Development_1

C-301013 Provident Development_2

C-301013 Provident Development_3

C-301013 Provident Development_4

C-301013 Provident Development_5

C-301013 Provident Development_6

The Oasis

Provident Development: Residential Mid-End House Design Competition 2014 (Kompetisi Nasional)

Juara 2 (Kategori C)

Tim: Anggoro, Anggi, Wawan

Sebuah titik balik pertama, akhirnya… Championship! Meskipun belum juara satu dan dengan jarak nilai yang sangat tipis… Alhamdulillah (to be continued) (mengejar post bulan Maret yang nyaris tertinggal) click for more details.

My November

November 25th, 2014.

22.

Alhamdulillah, Thank God for All Your Grace.

Upload1

Thank you ma lovely temantemin, my little brother, and my partner; for the gifts!

Upload3

Thank you for… Everything ♥

Upload2

Thank you for coming all the way, babes!

Upload5

Thank you for the journey, laughter, and… the Trophies :p

Upload6

Also, happy birthday for both of you!

Upload4

And thank you for the trip. I love you guys ♥

Alhamdulillah.

Maka nikmat mana lagi yang engkau dustakan?

:)