Morning Therapy

Sejak kecil, buku bukan momok menakutkan untuk saya. Buku apapun, asalkan ditulis dengan bahasa dan pemilihan frasa yang menarik, saya pasti betah membacanya. Dan beberapa pagi ini, saya kembali menikmati buku setelah sekian lama -seolah- tidak memiliki waktu membacanya.

Hanya novel. Yang menurut saya tidak hanya -hanya-. Banyak sekali novel-novel baru bertebaran di toko buku sana. Dengan judul mengundang dan grafis yang tidak kalah menariknya. Rasanya semua novel di toko buku sekarang tidak ada yang sampulnya tidak bagus. Don’t judge book from its cover; memang selalu menjadi quote paling benar sepanjang masa. Cover bagus isi jelek. Cover jelek isi bagus. Cover jelek isi apalagi. Cover bagus isinya lebih jelek lagi. Then you’ll never ever really know somebody’s heart, right?

Kemarin sore, saya diberi rezeki menikmati sunset dari Tebing Breksi yang jarang-jarang bisa aku dapat. Tapi toh rezeki melihat sunset ini relatif. Saya tiba di Breksi sekitar pukul 5 sore. Parkir di depan warung yang sudah pasti ramai karena Breksi kini populer. Saya sudah ditunggu kawan di atas tebing. Naik sekian puluh (lebay, mungkin hanya 20an hahaha) anak tangga tatahan batu, saya tiba di atas dan disambut sawah. Iya, sawah. Di atas tebing batu Breksi. Sawah ini punya tanah 40cm untuk menumbuhkan padinya, yang hanya panen setahun sekali.

Stop point pertama. Tebing tertinggi di Taman Breksi. Matahari sudah jingga tua, tapi belum terlalu turun.

Lalu saya lanjut berjalan naik sedikit lagi. Berbelok ke salah satu rumah warga. Seperti memiliki banyak anggota keluarga. Ada yang membakar kayu, mencuci baju, ada yang hanya sekedar duduk-duduk lalu menyambut kami. Kami berbincang sebentar. Lalu disuguh singkong rebus yang panas mengepul. Saya melihat jam, sudah 17.50. Sebentar lagi maghrib dan matahari pasti sudah hampir turun. Saya pergi sebentar ke samping rumah untuk menikmati sunset.

Subhanallah.

Di rumah sederhana ini, dengan bangku kayu seadanya, terasnya bukan keramik, keluarga ini -setiap hari- bisa menikmati sunset seindah ini. Garis horizon lurus hampir membentuk setengah lingkaran. Di kakinya, kelap-kelip kota, bahkan Bandara, terlihat. Saat itu langit cerah, hanya beberapa awan bergerumbul. Biru, jingga, putih, hijau, kelap-kelip tak terdefinisikan. Alhamdulillah, rezeki saya, batinku. Bahagianya keluarga ini.

Tapi, we’ll never ever really know somebody’s heart, right? Nyatanya anggota keluarga ini biasa-biasa saja menanggapi majestic view di samping rumahnya. Rumput liar dibiarkan setinggi paha orang dewasa, pohon pisang ditanam tepat di sisi jendelanya, seolah matahari cantik ini membuat silau kamar. Jika ini rumah saya, jika dan hanya jika. Saya sudah bilang rezeki melihat sunset ini relatif bukan?

Beberapa rezeki kecil bagi kita, mungkin bagi orang lain ada anugerah yang luar biasa. Itulah kenapa agama kita, selalu, selalu mengajarkan untuk selalu bersyukur. Seperti pagi ini, saya ada rezeki bisa membaca sekian halaman novel bagus dan menulis ini sebagai rehat pagi sebelum kembali beraktivitas.

Beberapa menit yang tenang, lambat, untuk menyelami sebuah kisah. Dan kemudian membuat kita bersyukur.

Masih ada 2,5 buku lagi yang memanggil-manggil untuk dibaca. Semoga ada rezeki waktu lagi lain kali.

Selamat pagi dari Jogja :)

Advertisements