Katalisator

Daliana Suryawinata, SHAU Architect on Kick Andy edisi 5 Juni 2015

Mendengar tentang SHAU sudah sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu. Sewaktu awal-awal masuk kuliah, masih segar ingin cari tahu, arsitektur itu bagaimana. Waktu itu zamannya jurusan sedang getol mendatangkan banyak praktisi untuk mengisi seminar dan kuliah tamu (yang sekarang rasa-rasanya semakin berkurang intensitasnya, padahal acara kaya gitu seru sekali diadakan di kampus).

Waktu itu yang datang mewakili SHAU adalah Florian. Dia sudah bercerita tentang micro libraries dengan konsep seperti vending machine. Florian juga bercerita tentang banyak kasus, seperti OMA dan MVRDV. Baik hasil yang saya dapatkan di seminar Florian dan googling internet, dominasi SHAU tampaknya memang di proyek-proyek sosial. Proyek kecil tapi detail yang memang nyata dampaknya di lapangan. Waktu itu saya tidak tahu kalau ternyata ada sosok besar lain di balik SHAU, selain Florian.

Dipertemukan lagi dengan Florian beberapa bulan lalu di Bandung. Kali ini beliau tidak sendiri, ada Ibu Daliana Suryawinata, yang ternyata adalah istri Florian, sekaligus jebolan OMA langsung di bawah Rem Koolhaas. Membaca riwayat singkat Ibu Dana, membuat saya berpikir, bisa lho seorang wanita, arsitek, mencapai level seperti beliau dan ya, saya seperti menemukan sosok panutan (well, saya memang kurang suka Zaha Hadid, baik dari segi desain maupun kehidupan pribadinya hahaha if you know what I mean).

Pada pertemuan di Bandung ini, Dana dan Florian lebih menceritakan proyek super-kampong mereka di Muara Angke Jakarta Utara. Bagaimana suka duka mereka keluar masuk gang-gang sempit untuk mencari tahu kebutuhan masyarakat dan keinginan masyarakat. Satu pertanyaan menarik dari salah satu peserta seminar,

‘Apakah proyek sosial kalian berbayar?’

Mereka dengan tegas menjawab, ‘Ya, kami sudah menekankan sejak awal bahwa kerja kami tidak gratis. Kerja kami profesional. Ada tim yang harus kami akomodasi dan jaga. Jadi, ya, kami tidak gratis.’ Namun mereka menegaskan pula, bahwa SHAU hanya bekerja untuk mereka yang satu visi misi dengan SHAU. Hal ini juga telah disebutkan Dana di dialognya dengan Andy.

Satu istilah menarik yang dikemukakan Dana tentang pemimpin-pemimpin muda Indonesia saat ini; katalisator. Seperti contoh, Ridwan Kamil adalah arsitek luar biasa. Jabatannya sebagai walikota sekarang adalah katalis untuknya, mewujudkan mimpi-mimpi beliau untuk Bandung. Katalis. Mempercepat. Mempermudah. Fenomena ini menjadi menarik, melihat keadaan Indonesia saat ini yang serba melambat. Mungkin kurang tadi ini, katalisator, seseorang yang mencintai apa yang dikerjakannya dan didukung oleh birokrasi. Begitu juga dengan SHAU. SHAU mendekat pada Ahok dan Jokowi dan Kang Emil, yang mereka rasa satu visi dengan SHAU. Karena beliau-beliau inilah katalisator bagi SHAU untuk mewujudkan mimpi Ibu Dana melihat kota di Indonesia, Jakarta khususnya, menjadi lebih layak huni. Dan tidak dapat dipungkiri, pemerintah-lah satu-satunya gerbang.

Saya juga pernah berdiskusi ringan dengan salah satu teman kuliah; arsitektur di Indonesia ini masih asing, seperti alien (saya menyadarinya ketika menonton Kick Andy ini, saya kurang nyaman melihat penjelasan Ibu Dana, rasanya seperti beliau menahan sesuatu, seperti tidak bisa menjelaskan dengan tepat dengan bahasa arsitektur, dan Anda juga mungkin menyadarinya juga, ketika Anda bosan membaca tulisan saya hahaha). Padahal arsitektur itu tidak melulu hanya bangunan. Arsitektur itu pola pikir, cara pandang, bahkan gaya hidup seseorang dalam melihat dan menyelesaikan masalah. Bahkan hal kecil sekalipun, dapat diselesaikan dengan pola pikir arstektural. Tapi lagi-lagi, saya bicara dengan gaya arsitektural lagi. Bicara dengan gaya yang belum tentu dipahami orang lain. Arsitek senang itu. Tapi bagaimana arsitektur bisa membumi jika arsiteknya tinggi ego begitu? Hehehe ini saya juga masih belum bisa jawab.

Tapi satu jawaban yang dapat saya simpulkan; katalisator. Arsitek harus segera menemukan katalisator yang sesuai dengan visi misi mereka. Tentu saja yang diharapkan adalah visi misi yang dapat membawa perubahan ke Indonesia yang lebih baik. Tahu apa yang kamu impikan, tahu apa yang kamu inginkan, mampu mevisualisasikan dengan baik, dan konsisten meraihnya. Then it’ll find the way.

Seperti ucapan dari Putri Pandora di hari saya sidang, ‘Semoga ilmunya bermanfaat untuk masyarakat Indonesia :)’ Aamiin. Bismillah.