#14 Paradesc 2015: Berundak Dagang

by njx

PRD 043_1

PRD 043_2

PRD 043_3

Berundak Dagang

Parahyangan Design Competition 2015: Developing People Through Space

2nd Winner

Dewan Juri: Yu Sing – Ir. Yuswadi Saliya, M.Arch, IAI, LSAI. – Agus R. Soeriaatmadja (IALI)

Tim: Anggoro Setia Budhi, Darmawan Hartono Utomo, Ardianti Savitri Anggiasari

Finally Bandung!

Seperti yang sudah menjadi ekspektasi, Bandung adalah salah satu kota keren yang harus dikunjungi lagi suatu saat nanti. Kami tiba di Bandung tengah malam di hari Sabtu. Beruntung, karena kami tidak perlu merasakan macetnya kota Bandung, namun tetap bisa menikmati hiruk pikuk anak muda Bandung di malam minggu. Sepanjang jalan dari stasiun ke hotel, saya cuma bisa bilang “Wow bagus” “Waaaa keren” “Super hip” dan lain-lain.

Tempat presentasi Paradesc 2015 ada di Bumi Sangkuriang, Bandung Utara. Dimana kawasan tersebut notabene kawasan elite. Kanan kiri rumah ala-ala arsitektur masa kini berdiri dengan harmonis. Site impian semua mahasiswa arsitek untuk bikin rumah hahaha. Cuacanya, arsitekturnya, lansekapnya.

Bandung juwarak!

Tema Paradesc, yang diadakan oleh Universitas Katolik Parahyangan tahun ini adalah Developing People Through Space. Bagaimana PKL pada saat ini menjadi permasalahan kota yang tidak mudah diselesaikan. Sayembara ini meminta peserta untuk bagaimana ‘mencerdaskan’ user baik PKL maupun masyarakat dengan desain arsitektural. Site yang berada di lahan kosong belakang Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, ‘memaksa’ kami untuk membaca TOR berulang kali. PKL dan taman. Dua hal yang terlalu luas dan sulit dirangkum dengan ide baru. Untuk detail karya kami dapat dibaca di panel.

Sampai semua finalis selesai presentasi, Yu Sing menegaskan bahwa tidak ada satupun karya dari finalis yang mencerminkan PKL itu seperti apa. Tidak ada finalis yang secara dalam mempelajari perilaku dan kondisi PKL di lapangan. Memang bukan hal arsitektural, tapi tidak pantas untuk dilupakan. Yu Sing kira-kira berkata seperti ini, “Tidak ada PKL yang hadir disini kan? Kalau ada, mereka bisa marah-marah lihat begini.” Pukulan telak :”

Meski begitu, menurut Pak Yus, penilaian dan pemilihan juara harus ada. Tidak ada karya yang sempurna. Tapi ada karya yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Sepanjang Yu Sing, Pak Yus dan Pak Agus memberi wejangan penutup mereka, saya pribadi, mempertanyakan lagi saya ini akan jadi apa ke depannya. Apa saya ini telah paham tentang arsitektur yang memanusiakan manusianya? Apa saya ini bisa terjun ke dunia nyata (sebentar lagi) dengan ilmu saya yang masih berbutir? Pukulan telak lagi :”

Selain presentasi, ada talkshow dari SHAU mengenai proyek komunitas mereka di Muara Angke, Taman Film Bandung dan micro libraries di beberapa titik kota Bandung. Menginspirasi bagaimana SHAU mencoba mempertahankan idealisme mereka, baik dalam komunitas maupun profesionalitas. Tapi yang menjadi favorit saya bukan Florian atau Ibu Daliana, tapi putra mereka-yang-ganteng-banget-dan-hiperaktif-dan-menggemaskan, yang bikin heboh kursi penonton karena dia ingin naik ke panggung bareng ayah ibunya. Meskipun udah dijaga oleh eyangnya dan dirayu-rayu panitia buat duduk tenang, toh dia akhirnya menemukan celah buat naik ke panggung. Jadi dari tengah talkshow sampai akhir, Florian dan Ibu Daliana bercerita sambil mangku putra mereka yang kini tenang. How cute! Semoga besok aku dan suamiku bisa sedekat itu sama anak meski kami sama-sama bekerja :3 *salah fokus wooooooooi!* *maap*

Sebagai penutup, berikut adalah tim juara dari Parahyangan Design Competition 2015:

Juara 1: Universitas Katolik Parahyangan

Juara 3: Universitas Indonesia

Juara 4: Universitas Gadjah Mada

Juara 5: Universitas Katolik Parahyangan

Alhamdulillah. Sampai jumpa di portofolio selanjutnya ;)

Advertisements