Wobblywobble

Month: October, 2014

#10 Rumah Kayu Nunut Ngiyup 2014

RK 118 - 1

RK 118 - 2

RK 118 - 3

Lomba Desain Rumah Kayu 2014 oleh Rumah Intaran (Kompetisi Nasional)

Tim Nunut Ngiyup: Anggoro, Arsyi, Anggi

Nominasi 27 Besar

Ini salah satu sayembara yang jadi favoritku. Mulai dari diskusi konsep sampai eksekusinya. Semuanya matang. Kecuali satu; kurang detail di bagian sambungan kayu dan detail struktur lainnya. Karena tujuan akhir dari sayembara ini adalah realisasi 1:1 dari pemenang sayembara. Jadi sayang banget, harus berhenti di 27 besar. Tapi udah cukup puas kok :) untuk detail posternya bisa dibaca sendiri (diklik untuk lihat resolusi besar).

Dapat kabar masuk 27 besar di lokasi KKN (yang susah sinyal) padahal harus mengirim dokumen jpg lalala sebagai syarat masuk step selanjutnya. Dengan susah payah terkirim juga sih. Meskipun sampai sekarang nggak pernah dapat konfirmasi email aku masuk atau enggak. Tahu-tahu udah nggak lolos 10 besar aja hiks. Semoga bukan karena jpg kami nggak terkirim ya :” sedih banget kalo ternyata nggak lolos karena kesalahan teknis.

Ralat! Hehehehe pengiriman dokumen jpg dari lokasi KKN itu bukan untuk keperluan penjurian ding. Tapi untuk keperluan dokumentasi karya 27 besar (yang katanya akan dibukukan). Saya lupa karena masih terbayang-bayang penjurian sayembara Menpora hehe (doakan kamiiii..) jadi, hasil sayembara tidak ada hubungannya sama sekali dengan teknis pengiriman. Maafkan aku ><

Tapi apapun itu, proses pembelajarannya menyenangkan sekali :) follow deh facebooknya Rumah Intaran buat refreshing arsitektural yang puitis. Aku suka sama detail-detail kecil yang mereka bahas soal alam. Semoga bisa main kesana :)

Advertisements

#9 SDA Tematik 1: Lempuyangan Pre School

Ketoke aku nek nggarap studio ceniningan e. Ratau serius.

Padahal ini nilai sks terbanyak. Tapi aku merasa nggak pernah maksimal. Nggak pernah puas. Beda sama sayembara. Entah kenapa. Rasanya beda. Puasnya beda. Tapi semoga menjadi pembelajaran dan pengalaman selama prosesnya. Semoga.

02

03

04

10

Dosen: Pak Ismu, Nilai: Cukup Memuaskan, Saya? Tidak puas dengan hasilnya :(

#8 AFAIR2014 Architecture for You

Udah lama banget nggak update blog soal portfolio yang sayembara. Jadi lebih baik karya ini di-post sebelum sayembara AFAIR selanjutnya keluar pemenang baru hehe.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, AFAIR jadi ajang sayembara seru-seruan. Bermain ide. Diskusi. Ngobrol. Dan seterusnya. Bisa dibilang, perbandingan waktu brainstorming sama eksekusi itu 1:9. Pengerjaannya cuma makan waktu semalam kalo nggak salah. Itupun cuma dikerjain dua orang (satunya modus).

Jadi ceritanya begini, tim awal yang terbentuk itu Ucup, Gata sama Anggoro. Melihat tingkah laku dan kebiasaan dari Ucup dan Gata, Anggoro inisiatif ngajak saya buat jadi ‘reminder: ayo nggarap bro’. Langsung iya-in aja waktu itu karena lagi selo juga. Tema buat tahun ini adalah Architecture for You. Buat sesuatu yang ‘dia banget’ buat mendukung aktivitas yang ‘dia banget’. Entah benda, instalasi, dsb. Si ‘dia banget’ ini harus seseorang di dalam tim. Karena ada Gata dan Ucup di dalam tim, udah jelas mereka yang dijadikan obyek penelitian.

Setelah brainstorming mulai dari rokok, cara bribik cewek, cara kenalan buat orang pemalu, dan seterusnya. Keluarlah produk akhir ini..

EDC016 - A

EDC016 - B

EDC016 - C

EDC016 - D

SepatUp!

10 Besar AFAIR UI 2014 (Kompetisi Nasional)

Tim: Gata, Ucup, Anggoro, Anggi

Menyenangkan banget bikin posternya! Hihihi saya sih sangat menikmati bikin poster lucu-lucu kayak gini. Pengerjaannya cuma semalam. Aku inget banget malam itu Jamses-nya anak 2013 dan besoknya (atau tengah malamnya) deadline AFAIR. Dan ide baru fix sekitar jam 9 malam hari itu hahaha. We were having so much fun!

Untuk 10 besar banyak tim UGM yang masuk. Ada 5 tim termasuk kita. Tim Bela Janu Bila Dissa sendiri berhasil jadi juara 2. Dan tim mas Victor dkk berhasil jadi juara 3. Yeaaay! Wiswakharman memerahkan AFAIR 2014.

1619400_10202803433954160_45348721_n

Mungkin kalau kita ngerjainnya lebih niat sedikit, kita bisa jadi juara juga kali ya? Atau malah ga masuk nominasi sama sekali hahaha :v

Architecture Is A Crime

10485886883_d194b8c233_b

Source

Banyak post bertebaran di facebook dan twitter bertagar #JogjaOraDiDol #JogjaAsat dan lain sebagainya. Kenapa? Karena banyaknya mall, hotel dan apartemen baru yang berdiri di Jogja? Itu saja? Lantas pembangunan rumah-rumah, pertokoan, bangunan pendidikan dan lain sebagainya tidak dipersalahkan? Hanya bangunan komersial saja kah yang kalian anggap ‘kriminal’? Karena jika ditilik lebih lanjut, semua pembangunan, SEMUA, pembangunan arsitektur memang akan mempengaruhi lingkungan alam sekitarnya jika penyelesaiannya tidak tepat. Architecture is a crime.

Saya mahasiswa Arsitektur (yang bahkan belum lulus, jadi opini disini masih sangat bisa diperdebatkan), sejak awal sudah sadar bahwa arsitektur itu ‘merusak’. Namun doktrinasi pendidikan mengenai kami bisa menyelamatkan bumi melalui ‘green architecture’ ‘heritage’ ‘public space’ ‘ruang terbuka hijau’ ‘KDB’ ‘KLB’ ‘ventilasi alami’ dan lain sebagainya, membuat kami percaya bahwa kami bisa menebus, setidaknya, perasaan bersalah. Architecture is a crime.

Kembali ke pembahasan kota Jogja tadi, kenapa orang-orang lebih tertarik kepada isu meningkatnya keberadaan hotel dan apartemen serta mal baru di Jogja, dibandingkan maraknya pembangunan perumahan-perumahan kecil di lahan-lahan produktif? Kenapa? Rumah juga produk arsitektur, yang jika pertumbuhannya tidak terkendali juga membuat #JogjaAsat. Kenapa? Karena rumah kebutuhan dasar semua orang? Lantas hotel, mall dan apartemen tidak menjadi kebutuhan?

Pada tahun 2012, peningkatan wisatawan yang datang ke DIY mencapai 46% (Gantang Wijaya, 2012). Bandingkan saja dengan akomodasi yang ada saat itu, jumlahnya tidak sebanding dengan wisatawan yang datang. Pengalaman pribadi dari seorang kerabat, dia pernah terpaksa menginap di mobil terparkir di Alun-Alun Utara karena kehabisan akomodasi saat berlibur di Jogja. Dan dia tidak sendiri, ada beberapa keluarga lain yang terpaksa melakukan hal yang sama. Hal ini menunjukkan hotel (akomodasi) merupakan hal penting untuk sebuah destinasi wisata. Lagipula Pemerintah memberikan izin pembangunan hotel tidak semata-mata asal tanda tangan kan? Pasti sudah dipikirkan dan ditelaah bagaimana baik-buruknya untuk masyarakat. Meski saya sendiri tidak tahu pasti proses dan kejujuran di dalam badan pemerintahan, namun saya percaya mereka cukup kompeten untuk menerima amanat.

Bagaimana dengan mall? Apakah pembangunan mall juga sekriminal itu? Lantas setelah mall tersebut beroperasi, tidak akan ada orang yang datang karena pembangunannya yang kriminal? Benarkah? Jogja City Mall, The Spirit of Jogja, yang bahkan dari judulnya sudah jelas-jelas salah.

1. Mall ini tidak berdiri di Kota Yogyakarta.

2. The Spirit of Jogja? Really? Saya tidak pernah tahu kalau Yogyakarta pernah dijajah Romawi dan di dalam bangunan Romawi ada tegel kunci Jawa dan railing khas Kraton (http://id.wikipedia.org/wiki/Jogja_City_Mall)

Lantas jika saya bisa mengkritik Jogja City Mall dari sisi konsep arsitektural, apakah itu menghentikan saya dan orang-orang untuk tidak datang ke sana? Tidak, JCM tetap ramai. Saya juga mau datang karena saya suka tenant-tenant yang ada disana. JCM tetap ramai. Karena demand dari masyarakat cukup tinggi dan tenant baru yang belum ada di Jogja membuat masyarakat semakin tertarik ke JCM. Saya belum mencari tahu soal bagaimana penanganan JCM dalam hal utilitas dan jaringan-jaringan pendukungnya, sehingga saya tidak bisa menyebutkan apakah itu bermasalah atau tidak.

Untuk kalian yang rajin sharing page tentang #JogjaOraDiDol, tahukah kalian ada website resmi ini, http://jogjainvest.jogjaprov.go.id/ ?

Masih tetap kriminal? Yang mana? Mall, hotel, atau perumahan? Atau semuanya? Ya, karena arsitektur itu memang kriminal. Semua bidang pembangunan itu kriminal. Penambangan itu kriminal (merusak bumi). Industri otomotif itu kriminal (bikin macet). Fashion dan kosmetik itu kriminal (animal testing).

Lalu bagaimana? Haruskah kita kembali ke zaman dimana tidak ada pembangunan besar-besaran? Tinggal di rumah pohon agar #JogjaTidakAsat? Mendirikan camping ground? Memakai pakaian dari daun?

Jika kita melihat hanya dari satu sisi, apalagi sisi negatif, maka semua pembangunan di dunia ini hanya akan tampak seperti kriminal. Tinggal bagaimana kita semua menanganinya. Menangani sesuai di bidang kita masing-masing. Seperti saya yang akan berusaha untuk menjadi arsitek (serta warga kota) yang beradab. Tidak ada yang kriminal. Mencuri itu kriminal.

.

.

.

ditulis untuk memperingati Hari Jadi Kota Yogyakarta ke-258 dan untuk diperdebatkan.