Lesson Learned

253120_4563856450144_117348904_nFutsini – Champione Teknisiade 2012

Kejayaan itu. Suka duka itu. Setahun yang lalu. Semuanya hal baru, keluarga baru, pelajaran baru. Kakak kakak super, cewek cewek super. Nggak gampang buat ngumpulin anak-anak latian. Apalagi latian ontime. Bayar mahal sewa lapangan gara-gara jumlah jam sewa dan jumlah yang hadir latian nggak sepadan. Cedera ini itu. Keteteran nugas dan display gara-gara sorenya latian futsal terus alasan capek terus ngantuk terus tidur nyenyak. Tekanan sana sini. Dihina sana sini. Apaan futsal cewek kalo main keroyokan. We’ve tried not to be. Maka dari itu kita latihan. Tapi sekali lagi, nggak semudah itu. Lesson learned.

Teknisiade 2012.

Latihan intensif satu tahun memang ditargetkan untuk ajang satu itu. Target ingin membuktikan, ingin menunjukkan apa yang bisa kami lakukan, apa yang bisa kami sumbangkan untuk Wiswakharman di luar meja gambar. Hingga gelar Champione itu diraih. Hingga kebanggaan itu hinggap di hati setiap Wiswakharman. Entahlah untuk yang lain. Tapi di hati kami, ya, kebanggaan itu masih ada hingga satu tahun kemudian. Lesson learned.

Teknisiade 2013.

Latihan kami kecolongan. Kami kehilangan pelatih terbaik, kakak kakak terbaik. Tidak ada lagi latihan satu tahun intensif. Tidak ada lagi pertandingan-pertandingan kecil untuk memperkuat mental kami. Tapi tekad itu masih ada. Tekad untuk mempertahankan kebanggaan Wiswakharman. Perubahan struktur, pelatih, dan latihan dimulai dari nol lagi. Tekanan lagi. Hinaan lagi. Pesimisme lagi. Hingga pertandingan pertama semua dibungkam. Dan pertandingan kedua kami semua dibungkam. Lesson learned.

Seharusnya tulisan ini dibuat untuk mengenang kebanggaan itu lagi. Seharusnya tulisan ini dibuat setelah kami berhasil mempersembahkan kemenangan kecil kepada Wiswakharman. Seharusnya tulisan ini dibuat untuk menyiratkan bahwa Wiswakharman bisa berjaya meski dengan dukungan suporter yang minim, tidak sesolid dan seheboh tetangga lain, setidaknya kami bisa buktikan di lapangan. Tapi nyatanya tidak. Masih banyak, banyak sekali, yang harus kami pelajari. Lesson learned.

Karena ternyata, sebuah pertandingan tidak hanya terjadi di lapangan. Lesson learned.

Ini memang pilihan hidup. Semua berhak memilih. Semua memiliki jalan hidup dan prinsip masing-masing. Sayangnya saya telah memilih untuk berjalan di sini. Tidak, tentu saja tidak menyesal. Dengan tegas kami tekankan kami akan berada di garda depan. Kalian tidak mengerti apa yang telah kami lalui. Dan ya, kami juga tidak mengerti apa yang telah kalian lalui. Semua argumentasi selalu berakhir di poin semua tergantung individu masing-masing. Kalau sudah begitu, tidak ada lagi kata ganti ‘kami’, yang tersisa tinggal ‘aku’. Aku, kamu, dia. Sampai kapan?

Karena ternyata, sebuah kekalahan memberi banyak sekali pelajaran. Lesson learned.

Terima kasih. Terima kasih untuk diberi kesempatan mengabdi pada Wiswakharman dengan cara lain, Futsini. Terima kasih telah diberi kesempatan untuk belajar hal-hal yang tidak bisa didapatkan di ruang kuliah. Terima kasih telah membuka mata saya untuk melihat siapa yang benar-benar peduli dan yang tidak. Terima kasih atas kehangatan keluarga ini. Terima kasih atas segala kenangannya, atas segala kebanggaannya. Terima kasih atas segala pembelajarannya. Masih ada satu tahun. Satu tahun terakhir untuk saya mengabdi di Futsini. Semoga kontribusi saya yang kecil ini bisa membantu.

Sampai jumpa di Teknisiade 2014.

BWnQSiMCMAAAd-o

Futsini untuk Wiswakharman Juara!

Update: Perunggu untuk Futsal Putri :) Alhamdulillah. Perlu sentilan untuk kembali memaksimalkan performa dan menekan kesombongan. Tapi malam ini, girls, itu-teriakan-WISWAKHARMAN-JUARA-paling-keras-dan-paling-bangga-seumur-hidup-saya. Akan kami teriakan lagi. Pasti.

Advertisements