Katanya

by njx

picture taken from makemestfu.net

Kaki kecilnya sedikit terseret. Menerbangkan serpihan kerikil. Seiring dengan menyatunya serpihan memori ibunda. Mata cokelat itu awas dengan setapak di depannya. Enggan terjatuh dan mengotori rok baru yang dibeli ibunda kemarin sore. Sepi, pikirnya. Pemakaman memang tidak pernah ramai ya?

Batu-batu itu seperti muncul begitu saja. Di atas permukaan tanah yang tidak rata. Menyisakan sedikit setapak. Beberapa bahkan tak cukup dilewati ia dan ibunya berdampingan. Topi yang ia kenakan sudah boleh dilepas. Sudah rindang di sini, Nak, kata ibunya. Batang-batang kurus menjulang. Menopang helai demi helai daun lebar.

Berdoa sebentar di depan nisan yang sudah ia hafal. Meninggalkan ibunya sebentar, yang selalu berdoa lebih lama. Memungut beberapa kuntum bunga yang dijatuhkan peziarah. Yang terindah akan ia letakkan di depan batu berukir nama ayahnya. Ibunya tersenyum.

“Jadi, apa pertanyaan untuk Ayahmu hari ini?”

Kaki kecilnya nyaris melompat kegirangan. Ini bagian favoritnya.

“Sudah kupikirkan semalaman! Dan semoga Ayah bisa menitipkan jawabannya kepada apa saja.”

“Yaitu?”

“Di surga ada matahari terbenam nggak?”

Ibunya tersenyum makin lebar. Menggamit tangan kecil mataharinya untuk pulang. Siap menerima berbagai macam pertanyaan tentang tata surya. Gadis kecil ini belum sepantasnya menerima kehilangan apapun. Bahkan ia belum sempat menuntut sesuatu. But even the sun, sets in paradise?

Advertisements