Setengah Dekade Kemudian

Diana belum pernah merasakan tubuhnya selelah ini. Sepenat ini. Sefrustasi ini. Bahkan tidak ketika kekasih hatinya pergi.

 

Bosan dia hitung mobil berwarna hitam yang lewat di depan kafe ini. Kafe yang menyediakan teh terbaik di kota, katanya, karena Diana sendiri membenci teh. Hambar, katanya.  Meski tidak mencicipi teh di kafe terbaik seperti datang ke kolam renang mengenakan kebaya. Bisa sih, tapi aneh. Ia selalu memesan satu-satunya kopi yang ada disini, kopi hitam kental. Diana datang ke kafe ini hanya karena suka dengan suasananya. Kafe tenang yang dihiasi pemandangan riuh kuda besi. Di luar sana bisingnya minta ampun. Baru dilihat saja sudah terasa sumpeknya. Tapi kafe ini seperti kotak kedap suara. Tenang, sesekali suara klakson terdengar ketika pintu kafe dibuka, beradu dengan dentingan sendok dan cangkir.

Terlihat, tapi tidak terdengar.

Seperti Diana. Mirip Diana. 5 tahun yang lalu, Diana masih terdengar dan mau mendengar. Ia masih bersedia bercerita apapun kepada semua orang. Sekedar kegiatan pagi ini, siapa yang ditemuinya di jalan, apa yang dibelinya di pasar. Apapun, yang sekiranya bisa mendekatkan jaraknya terhadap orang sekitarnya. 5 tahun yang lalu pula, semua itu lenyap digulung ombak. Terurai menjadi serpihan seperti surat itu, dan hatinya.

Kini Diana masih terlihat, tapi tak lagi terdengar.

Diana pindah ke sebuah perumahan town house yang sepi. Tak lupa pesan kepada satpam depan untuk mencegah orang berkunjung ke rumahnya, terkecuali orang tua-nya. Yang paling banter mengunjungi Diana setahun sekali. Diana memilih tinggal bersama matahari-nya yang baru. Secercah harapan hidupnya. Secercah pendengar dan yang mau didengar Diana.

Diana tersentak ketika matanya menangkap sirine ambulans yang bergegas menghilang. Bisa-bisanya ia melamun di kafe ini sementara matahari-nya tergolek di lantai 5 rumah sakit itu. Bisa-bisanya ia mengingat kembali pantai dan surat itu. Terburu-buru, Diana berlari menuju rumah sakit yang hanya berjarak 100 meter dari kursi yang ia tempati.

 

Diana belum pernah merasakan tubuhnya selelah ini. Sepenat ini. Sefrustasi ini. Bahkan tidak ketika kekasih hatinya pergi.

Advertisements