Aditya

by njx

Menulis surat itu di tengah malam. Di kala manusia lain terlelap, telah menjadi masa favorit Aditya. Menulis dengan sepenuh cinta di atas lembaran baru yang ia kira selamanya. Aditya menulis, mengingat, menggambarkan, tersenyum, tertawa sambil berharap, setidaknya, kenangan itulah yang selamanya. Ah, Aditya sedang menulis surat untuk kekasihnya.

Aditya masih ingat dengan jelas adegan itu. Dia sedang menuju lantai satu di sekolah barunya. Kekasihnya ada di bawah tangga. Mereka berhenti sesaat. Saling memandang. Kemudian berlalu. Cepat dan tak terlalu berarti. Namun mereka tahu, pasti ada sesuatu.

Aditya masih ingat dengan jelas adegan itu. Ia sedang bersama teman-teman barunya di depan kelas. Raganya disitu, tetapi matanya berputar seperti mencari seseorang. Mencari, mencari, terus mencari. Hingga tiba tepat di mata kekasihnya. Lagi, mereka saling memandang. Kali ini berarti. Karena Aditya seketika mendapat kekuatan. Kekuatan untuk memulai semua kisah ini. Yang dikenang Aditya dengan senyuman.

Aditya masih menyimpan setiap pesan singkat yang mereka tukar.Β Tentang apapun. Tentang tren musik saat ini. Tentang film-film di bioskop. Tentang cuaca. Tentang kegiatan masing-masing di hari itu. Tentang keluarga. Tentang Aditya. Tentang kekasihnya. Tentang mereka.

Aditya masih ingat dengan jelas adegan-adegan itu. Kekasihnya yang penakut. Kekasihnya yang tidak suka hal berbau horor. Kekasihnya yang membeli tiket bioskop dengan percuma karena memalingkan mata sepanjang film horor. Kekasihnya yang doyan pedas. Kekasihnya yang selalu menertawakannya setiap kali Aditya menderita kepedasan. Kekasihnya yang suka sekali melihat kereta di Stasiun Tugu di sore hari. Aditya juga suka. Tapi Aditya lebih suka adegan menggenggam tangan kekasihnya sepanjang sore. Kekasihnya yang selalu bersemangat ketika Aditya ajak ke pantai. Aditya selalu, selalu suka pantai. Pantai adalah kekasihnya yang pertama. Kekasihnya sebal ketika tahu ini. Tapi Aditya tidak peduli. Karena kedua kekasihnya akan sangat sempurna jika berdampingan. Kekasihnya yang suka mendengarkan track lagu secara urut. Aditya yang suka mendengarkan lagu secara shuffle. Mereka akan bernyanyi bersama, ya. Saling berebut di kemudian waktu, ya. Aditya lebih sering menang. Karena ini mobil Aditya, katanya. Konyol, kata kekasihnya. Kemudian mereka menertawakan diri mereka sendiri. Dan kekasihnya yang doyan makan. Wisata kuliner mendadak ke Solo juga menjadi kenangan kekal untuk Aditya.

Aditya berhenti. Tiba-tiba semua tidak terkendali. Tiba-tiba Aditya ingin menuliskan semuanya dan membuatnya abadi. Setiap detail. Aditya ingin menulis setiap detailnya. Mata kekasihnya, bibir kekasihnya, helai rambut kekasihnya. Tapi Aditya memutuskan berhenti. Benar-benar berhenti.

Aditya melipat surat itu. Memasukkannya ke dalam amplop putih. Menuliskan alamat lengkap kekasihnya. Mengirimnya melalui kurir keesokan paginya, bersama sekotak cokelat kesukaan kekasihnya. Aditya juga menyelipkan satu amplop lagi. Amplop cantik dengan wangi khas kertas import. Aditya tahu ia pengecut. Aditya tahu ia egois. Yang Aditya tidak tahu, amplop cantik beserta isinya itu akan dihanyutkan oleh kekasihnya ke laut. Melalu pantai yang dipuja-puja Aditya. Amplop berisi undangan pernikahan Aditya.

 

 

 

Yogyakarta, 11 Juni 2012. 22.48. Ditulis sambil mendengarkan Love Is A Verb – John Mayer.

Advertisements