Diana

by njx

Akan selalu mengingat surat itu. Surat terakhir yang kekasihnya kirim untuknya. Ke alamat rumahnya dengan bantuan kurir. Meski Diana dan kekasihnya ada di satu kota. Inti surat itu sederhana. Bahwa kekasih Diana merindukannya. Merindukan saat mereka bertemu pertama kali. Diana tersenyum, tentu. Dia masih ingat saat mata mereka pertama beradu. Cepat dan tak terlalu berarti. Namun mereka tahu, pasti ada sesuatu.

Merindukan saat mereka pertama berkenalan. Diana lupa siapa yang memulai. Tapi kekasihnya ingat, Diana-lah yang menatap matanya lurus. Memberinya dorongan kuat untuk mengulurkan tangan, mengucapkan namanya. Yang disambut Diana dengan senyuman.

Merindukan setiap pesan singkat yang mereka tukar. Tentang apapun. Tentang tren musik saat ini. Tentang film-film di bioskop. Tentang cuaca. Tentang kegiatan masing-masing di hari itu. Tentang keluarga. Tentang Diana. Tentang kekasihnya. Tentang mereka.

Merindukan saat-saat mereka bersama. Diana tersenyum lama saat sampai di bagian ini. Telah lama bagian ini menjadi favorit Diana. Ketika mereka menonton bioskop bertema horor suatu hari, Diana tidak suka horor tapi penasaran. Kekasihnya malah banyak tertawa sepanjang film. Dia bilang banyak hal konyol. Diana tidak suka horor tapi dia senang. Memandang tawa kekasihnya sedekat itu tanpa berbagi dengan orang lain, menjadi pertunjukan tersendiri baginya. Ketika mereka makan malam bersama. Diana doyan pedas. Kekasihnya tidak. Pernah Diana memilih sebuah menu untuk kekasihnya. Pedas. Tapi kekasihnya tetap makan meski peluh berjatuhan dan merutuki Diana setelah itu. Diana tertawa kecil saat ada di bagian ini. Ketika mereka bosan. Sore hari duduk di stasiun Tugu memandangi lalu lalang kereta. Terdiam dengan tangan dalam genggaman. Pagi hari menghangatkan kaki di pasir pantai Sadranan. Berkejaran di tepi laut layaknya adegan india. Berteriak-teriak dari dalam mobil. Bernyanyi bersama ketika sampai di satu lagu favorit berdua. Berebutan ketika salah satu mulai bermain next track. Perjalanan dadakan ke Solo. Ide impulsif Diana namun langsung disetujui kekasihnya.

Diana masih ingin meneruskan. Tapi sepertinya kekasih Diana tidak punya banyak waktu untuk menuliskan semuanya dalam surat itu. Ketika surat itu menuju akhirnya, senyum Diana masih ada. Ketika surat itu mengatakan bahwa, benda itu adalah satu-satunya yang akan tertinggal, wajah Diana mulai meredup. Ketika surat itu sampai di tanda tangan terakhir kekasihnya, Diana menghela nafas. Sudah tidak meneteskan air mata seperti dulu. Meski terkadang masih.

Diana melipat surat itu. Memasukannya ke dalam amplop putih. Meletakkannya dengan hati-hati di laci nomor tiga. Di sebelah kotak permen cokelat yang telah kosong. Kekasihnya salah, masih ada kotak itu sebagai kedua yang tertinggal.

Diana bangkit ke balkon kamarnya. Mengambil cangkir kopi yang telah dingin isinya. Duduk dan meminumnya dalam diam. Diana tahu ini akan terjadi. Tidak ada yang sempurna. Kekasihnya terlalu sempurna. Diana tahu ini akan terjadi. Dicampakkan atau ditinggal mati tidak akan sama rasanya. Tapi sama saja bagi Diana.

Diana menghela nafas dan tersenyum. Cangkirnya sudah kosong. Menandakan ritual sore hari-nya sudah berakhir. Waktu bercinta dengan kekasihnya sudah habis. Jam di dinding menunjukkan pukul lima sore. Sudah saatnya Diana ke ruang keluarga untuk menonton berita sore dan menunggu putri kecilnya pulang dari kursus biola.

 

 

 

Yogyakarta, 10 Juni 2012. 00.55. Ditulis sambil mendengarkan Viva La Vida – Coldplay live on London 2011.

Advertisements