Wobblywobble

Month: June, 2012

Age of Worry

Close your eyes and clone yourself
Build your heart an army
To defend your innocence
While you do everything wrong

Don’t be scared to walk alone
Don’t be scared to like it
There’s no time that you must be home
So sleep where darkness falls

Alive in the age of worry
Smile in the age of worry
Go wild in the age of worry
And say worry, why should I care?

No your fight is not within
Yours is with your timing
Dream your dreams but don’t pretend
Make friends with what you are
Give your heart then change your mind
You’re allowed to do it
Cause God knows it’s been done to you
And somehow you got through it

Alive in the age of worry
Rage in the age of worry
Sing out in the age of worry
And say worry, why should I care?

Rage in the age of worry
Act your age in the age of worry
And say worry, get out of here!

 

John Mayer.

one of mind’s cheers.

Protected: Old

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Aditya

Menulis surat itu di tengah malam. Di kala manusia lain terlelap, telah menjadi masa favorit Aditya. Menulis dengan sepenuh cinta di atas lembaran baru yang ia kira selamanya. Aditya menulis, mengingat, menggambarkan, tersenyum, tertawa sambil berharap, setidaknya, kenangan itulah yang selamanya. Ah, Aditya sedang menulis surat untuk kekasihnya.

Aditya masih ingat dengan jelas adegan itu. Dia sedang menuju lantai satu di sekolah barunya. Kekasihnya ada di bawah tangga. Mereka berhenti sesaat. Saling memandang. Kemudian berlalu. Cepat dan tak terlalu berarti. Namun mereka tahu, pasti ada sesuatu.

Aditya masih ingat dengan jelas adegan itu. Ia sedang bersama teman-teman barunya di depan kelas. Raganya disitu, tetapi matanya berputar seperti mencari seseorang. Mencari, mencari, terus mencari. Hingga tiba tepat di mata kekasihnya. Lagi, mereka saling memandang. Kali ini berarti. Karena Aditya seketika mendapat kekuatan. Kekuatan untuk memulai semua kisah ini. Yang dikenang Aditya dengan senyuman.

Aditya masih menyimpan setiap pesan singkat yang mereka tukar. Tentang apapun. Tentang tren musik saat ini. Tentang film-film di bioskop. Tentang cuaca. Tentang kegiatan masing-masing di hari itu. Tentang keluarga. Tentang Aditya. Tentang kekasihnya. Tentang mereka.

Aditya masih ingat dengan jelas adegan-adegan itu. Kekasihnya yang penakut. Kekasihnya yang tidak suka hal berbau horor. Kekasihnya yang membeli tiket bioskop dengan percuma karena memalingkan mata sepanjang film horor. Kekasihnya yang doyan pedas. Kekasihnya yang selalu menertawakannya setiap kali Aditya menderita kepedasan. Kekasihnya yang suka sekali melihat kereta di Stasiun Tugu di sore hari. Aditya juga suka. Tapi Aditya lebih suka adegan menggenggam tangan kekasihnya sepanjang sore. Kekasihnya yang selalu bersemangat ketika Aditya ajak ke pantai. Aditya selalu, selalu suka pantai. Pantai adalah kekasihnya yang pertama. Kekasihnya sebal ketika tahu ini. Tapi Aditya tidak peduli. Karena kedua kekasihnya akan sangat sempurna jika berdampingan. Kekasihnya yang suka mendengarkan track lagu secara urut. Aditya yang suka mendengarkan lagu secara shuffle. Mereka akan bernyanyi bersama, ya. Saling berebut di kemudian waktu, ya. Aditya lebih sering menang. Karena ini mobil Aditya, katanya. Konyol, kata kekasihnya. Kemudian mereka menertawakan diri mereka sendiri. Dan kekasihnya yang doyan makan. Wisata kuliner mendadak ke Solo juga menjadi kenangan kekal untuk Aditya.

Aditya berhenti. Tiba-tiba semua tidak terkendali. Tiba-tiba Aditya ingin menuliskan semuanya dan membuatnya abadi. Setiap detail. Aditya ingin menulis setiap detailnya. Mata kekasihnya, bibir kekasihnya, helai rambut kekasihnya. Tapi Aditya memutuskan berhenti. Benar-benar berhenti.

Aditya melipat surat itu. Memasukkannya ke dalam amplop putih. Menuliskan alamat lengkap kekasihnya. Mengirimnya melalui kurir keesokan paginya, bersama sekotak cokelat kesukaan kekasihnya. Aditya juga menyelipkan satu amplop lagi. Amplop cantik dengan wangi khas kertas import. Aditya tahu ia pengecut. Aditya tahu ia egois. Yang Aditya tidak tahu, amplop cantik beserta isinya itu akan dihanyutkan oleh kekasihnya ke laut. Melalu pantai yang dipuja-puja Aditya. Amplop berisi undangan pernikahan Aditya.

 

 

 

Yogyakarta, 11 Juni 2012. 22.48. Ditulis sambil mendengarkan Love Is A Verb – John Mayer.

Diana

Akan selalu mengingat surat itu. Surat terakhir yang kekasihnya kirim untuknya. Ke alamat rumahnya dengan bantuan kurir. Meski Diana dan kekasihnya ada di satu kota. Inti surat itu sederhana. Bahwa kekasih Diana merindukannya. Merindukan saat mereka bertemu pertama kali. Diana tersenyum, tentu. Dia masih ingat saat mata mereka pertama beradu. Cepat dan tak terlalu berarti. Namun mereka tahu, pasti ada sesuatu.

Merindukan saat mereka pertama berkenalan. Diana lupa siapa yang memulai. Tapi kekasihnya ingat, Diana-lah yang menatap matanya lurus. Memberinya dorongan kuat untuk mengulurkan tangan, mengucapkan namanya. Yang disambut Diana dengan senyuman.

Merindukan setiap pesan singkat yang mereka tukar. Tentang apapun. Tentang tren musik saat ini. Tentang film-film di bioskop. Tentang cuaca. Tentang kegiatan masing-masing di hari itu. Tentang keluarga. Tentang Diana. Tentang kekasihnya. Tentang mereka.

Merindukan saat-saat mereka bersama. Diana tersenyum lama saat sampai di bagian ini. Telah lama bagian ini menjadi favorit Diana. Ketika mereka menonton bioskop bertema horor suatu hari, Diana tidak suka horor tapi penasaran. Kekasihnya malah banyak tertawa sepanjang film. Dia bilang banyak hal konyol. Diana tidak suka horor tapi dia senang. Memandang tawa kekasihnya sedekat itu tanpa berbagi dengan orang lain, menjadi pertunjukan tersendiri baginya. Ketika mereka makan malam bersama. Diana doyan pedas. Kekasihnya tidak. Pernah Diana memilih sebuah menu untuk kekasihnya. Pedas. Tapi kekasihnya tetap makan meski peluh berjatuhan dan merutuki Diana setelah itu. Diana tertawa kecil saat ada di bagian ini. Ketika mereka bosan. Sore hari duduk di stasiun Tugu memandangi lalu lalang kereta. Terdiam dengan tangan dalam genggaman. Pagi hari menghangatkan kaki di pasir pantai Sadranan. Berkejaran di tepi laut layaknya adegan india. Berteriak-teriak dari dalam mobil. Bernyanyi bersama ketika sampai di satu lagu favorit berdua. Berebutan ketika salah satu mulai bermain next track. Perjalanan dadakan ke Solo. Ide impulsif Diana namun langsung disetujui kekasihnya.

Diana masih ingin meneruskan. Tapi sepertinya kekasih Diana tidak punya banyak waktu untuk menuliskan semuanya dalam surat itu. Ketika surat itu menuju akhirnya, senyum Diana masih ada. Ketika surat itu mengatakan bahwa, benda itu adalah satu-satunya yang akan tertinggal, wajah Diana mulai meredup. Ketika surat itu sampai di tanda tangan terakhir kekasihnya, Diana menghela nafas. Sudah tidak meneteskan air mata seperti dulu. Meski terkadang masih.

Diana melipat surat itu. Memasukannya ke dalam amplop putih. Meletakkannya dengan hati-hati di laci nomor tiga. Di sebelah kotak permen cokelat yang telah kosong. Kekasihnya salah, masih ada kotak itu sebagai kedua yang tertinggal.

Diana bangkit ke balkon kamarnya. Mengambil cangkir kopi yang telah dingin isinya. Duduk dan meminumnya dalam diam. Diana tahu ini akan terjadi. Tidak ada yang sempurna. Kekasihnya terlalu sempurna. Diana tahu ini akan terjadi. Dicampakkan atau ditinggal mati tidak akan sama rasanya. Tapi sama saja bagi Diana.

Diana menghela nafas dan tersenyum. Cangkirnya sudah kosong. Menandakan ritual sore hari-nya sudah berakhir. Waktu bercinta dengan kekasihnya sudah habis. Jam di dinding menunjukkan pukul lima sore. Sudah saatnya Diana ke ruang keluarga untuk menonton berita sore dan menunggu putri kecilnya pulang dari kursus biola.

 

 

 

Yogyakarta, 10 Juni 2012. 00.55. Ditulis sambil mendengarkan Viva La Vida – Coldplay live on London 2011.

Dialog 2 Orang Mata Silinder

Pada suatu hari…

 

Mata Silinder 1: *membuat sesuatu yang seharusnya lurus* *few seconds later* Duh miring nih!

Mata Silinder 2: Mana miring? Kagak!

Mata Silinder 1: Miring tauk

Mata Silinder 2: Gua silinder tapinya..

Mata Silinder 1: Aku juga..

Mata Silinder 2: Yaudah berarti itu lurus

Mata Silinder 1: Oke. *melanjutkan pekerjaan*

 

Dialog failed -____-