Just Me

by njx

Halo :)

Berapa lama vakum dari blog? Asal belum sebulan nggak papa kali ya? Oke tulisan edisi kali ini adalah FULL NGOMYANG. Just me in my words. Mau ngomong apalah nanti ngalir aja, yang jelas nggak ada bahasan tertentu. *lo kate pelajaran?*

Oke pertama, habis baca blognya Ogiklo jadi pengen nulis nih (komentar mungkin ya). Judul blognya “Pola Pikir Mainstream Indonesia, Sebuah Penghancur Generasi Selanjutnya” Sedaaaaap. Silahkan dibuka itu link, dibaca, dan diresapi. Langsung aja, iya, aku setuju sama Ogik kalo pola pikir SEBAGIAN BESAR orang Indonesia tuh udah basi banget. Kolot. Mental duit. Kenapa aku tekanin ‘sebagian besar’ disini? Karena aku masih optimis ada segelintir orang entah itu tua muda cewek cowok opa oma yang masih peduli sama Indonesia dan masih melakukan sesuatu buat Indonesia. Entah itu dalam skala besar atau kecil.

Nah beberapa contohnya ada organisasi pemuda, komunitas hobi, dsb (aku nggak tahu buat kawula tua contohnya apaan, partai? Hmmm meragukan). Mungkin aku rada beda pendapat kali ya sama Ogik. Aku kebetulan ikut suatu organisasi pemuda gitu lah. Kenapa? Karena, well, aku nggak punya wadah buat ‘melakukan sesuatu’. Bullshit sih kalo aku bilang nggak punya. Banyak yang bisa aku lakuin sebenernya, misal be a better me itu udah termasuk melakukan sesuatu lho. Mungkin maksudnya wadah resmi. Kalo komunitas, hobiku apaan? -_- Random, hobi makan. Dan lumayan lah bisa nambah pengalaman, nambah temen. Di organisasi itu aku ngehandle bagian majalahnya. Nggak jauh-jauh dari pengalaman juga hehe.

Apakah nanti ujung dari organisasi ini adalah partai? Famous, carmuk, dll? Jujur, aku nggak tahu… Yang aku tahu sekarang, aku sedang di dalam sebuah organisasi yang menuntut keprofesionalitasan aku, kualitas aku, buat ngehandle apa yang jadi tanggung jawab aku. Apakah organisasi ini mengajarkan aku politik? Well, iya. Tapi jangan bayangkan politik yang digembor-gemborkan media. Itu sih gue juga tahu busuk banget. Karena sebagian besar orang Indonesia sukanya jeleknya orang diumbar. Mencari sumber kesalahan. Padahal bisa aja kesalahan dari dirinya sendiri. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Terus politik yang kayak gimana dong? Ya disini, kalo aku sih, aku jadi tahu proses jalannya birokrasi sebuah surat misalnya. Jalannya izin, ada hukumnya atau enggak. Caranya ngelobby sponsor, pentingnya sebuah koneksi resmi. Kolusi nepotisme? Beda bung! Sebenernya aku belajar ginian bukan dari organisasi ini juga sih, jaman-jaman kepanitiaan SMA juga dapet nih ilmu ginian. Belajar profesional, tanggung jawab, dan nggak ngecu.

Curcol aja nih ya, kepanitiaan aku yang terbaru itu yearbook+prom night. Beuh! Yakinlah ngurusin internal itu lebih susah daripada eksternal. Internal itu merasa seperti “Lo kenal gue kan? Santai lah bray.” istilahnya menyepelekan. Mentang-mentang kenal sama panitianya jadi seenak udel. Coba kalo eksternal, ada lah rasa sungkan sama panitia. Jadi pressure itu emang kadang perlu buat ‘memperingatkan’ seseorang. Balik ke yearbook. Tanya deh, ada yang belum lunas pembayaran biaya angkatan sampe sekarang? Ada. Iya, ada. Setelah pemberitahuan setahun sebelumnya teteeeeup aja. Profesionalkah? Tanggung jawabkah? Ngecukah?

Terus lagi, soal tetek bengek prom (dresscode dll), panitia yang ngehandle. Kenapa? Karena nggak mungkin kemauan 258 siswa bisa diturutin dalam satu kesatuan. Standing applause seminggu deh gue kalo bisa. Meski semua bisa setuju, tapi yakin masih ada yang ngedumel di belakang? Iya nggak? Hehehe sotoy yak gue. Sama tuh fungsinya kayak pembentuk undang-undang/peraturan. Memang nggak bisa menampung semua kemauan masyarakat, tapi seenggaknya bisa membatasi lah. Mana yang sesuai sama visi misi kita. Pendapat itu boleh banget. Tapi lagi-lagi kita dihadang sama birokrasi. Kalo lo ngomel babibu tentang pemerintah, DPR, and those shits di Twitter, di socmed, atau di blog macem gue, nggak bakal tuh pemerintah tahu. Balik ke prom. Kritik sana kritik sini, tambal sana tambal sini buat memenuhi kemauan rakyat 2011. Dan disamping itu masih dilecehin lagi, disepelein, dilanggar T-T Berat guys. Gitu kali ya rasanya jadi pemerintah. PEMERINTAH BERSIH lho, bukan yang busuk. Kalo yang busuk mah, “Apa peduli gue?”. Orang-orang baik diatas sana yang masih bersih dan memperjuangkan bener tanggung jawabnya, tapi gara-gara ‘mosi tidak percaya atas nila tadi’ semua kerja kerasnya seperti tertutup. Mungkin karena itu kali ya banyak yang nggak kuat jadi bersih? #lhoh #mulaisoktahu

Karena hal diatas, aku jadi punya pikiran waktu itu gini, “Ah terserah elo. Yang penting gue udah ngelakuin bagian gue.” Nah. Salah tuh. Aku udah ngeluh dan mulai nggak tanggung jawab. Aku jadi ngecu sama rakyat, istilahnya. Jadi kurang ajar dan kemakan kedudukan. Tapi namanya juga manusia punya batas kesabaran, maapin yak… Khilaf… Ujung-ujungnya pemerintah lagi kan yang salah? Muehehehe.

Balik deh ke pola pikir mainstream tadi. Pola pikir manusia itu HAM kali ya. Siapa aja berhak milih mikir gimana, senyamannya dia. Karena itulah perbedaan ada *wusssaah*.  Kalo kayak kata Ogik tadi, bener banget tuh soal kemandirian, berdiri sendiri. Tapi kita makhluk sosial yang hidup di negara hukum, mau nggak mau, birokrasi tuh ada. Sefakin’ apa itu. Mungkin itulah kenapa ada organisasi. Buat belajar menjembatani ‘maunya kita’ sama ‘maunya hukum’. Politik itu ilmu guys. Jangan samain politik sama politikus busuk. Tapi politik juga butuh orang-orang mandiri bermulut raksa buat menampar mereka. Buat menyadari mereka itu pelayan rakyat. Kita semua saling melengkapi lah, berjalan harmonis. Kapan terwujud? Optimis dulu lah, kapannya gatau ;)

Soal movement, movement tiap orang beda-beda. Senyamannya mereka. Sama kayak pola pikir. Apapun itu, mau komunitas, organisasi sosial, partai, KALAU dalemnya bersih dan sehat, movement apapun pasti ngebantu Indonesia kok. Sekali lagi, untuk kesekian kalinya, start from yourself guys. Jadilah orang baik, jujur dan nggak korupsi (dalam semua bidang). Aku juga masih failed :’) Sukanya telat, menunda pekerjaan, ngerasani orang, dsb muehehehe. Maaf ya? Karena itulah aku butuh orang lain buat ‘menampar’ kebiasaan buruk aku. Mungkin ada yang bilang, “Ah talk more do less lo!” Well, terserah lah ya. Mereka berhak bicara juga seperti aku. Berjalanlah harmonis, hargai perbedaan. YNWA!

Bahkan kontraktor kaya raya pun butuh buruh bangunan.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-66. Aku bangga.

 

Advertisements