Musim Hujan

by njx

Musim hujan.

Ingatkan aku ketika saat itu hadir. Terlihat seperti samar-samar. Hentikan. Itu hanya akan membuat kau dan aku terluka. Oh bukan. Aku terluka. Biarkan saja semuanya berlalu, itu kataku. Aku berhak mendapatkan yang terbaik, kataku lagi. Kemudian aku tertidur dan bermimpi melupakan semuanya. Tidak, bukan semua. Melupakannya.

Musim panas.

Aku lupa. Benar-benar lupa. Pada apa yang telah kukatakan saat itu. Bodoh. Dungu. Aku benar-benar berharap aku terluka lagi. Hanya demi. Demi sebuah fana. Kali ini tidak samar-samar. Kali ini sejelas kaca. Dan sekuat. Dan serapuh kaca. Senyumku berbanding lurus dengan lukaku.

Musim hujan.

Aku ingat lagi. Seperti apa rasanya hancur. Pertama-tama, kau berjanji bisa menghadapinya. Kemudian, kau tahu kau tidak bisa. Seolah kau sendirian di dunia ini. Kemudian kau marah. Sangat. Sangat marah. Hingga dadamu terasa sesak. Kemudian kau berusaha memeluk dirimu sendiri agar tidak hancur berkeping-keping. Dan menangis sesudahnya.

Musim panas.

Aku menemukan. Menemukan sebuah cahaya. Tapi cahaya itu ada di sana. Di balik kacaku.

Musim hujan.

Tahukah kau? Aku marah pada diriku sendiri. Karena membiarkan aku menjadi makhluk cengeng.

Musim panas.

Mereka di sisiku. Aku nyaris. Nyaris lupa pada cahayaku. Tapi nyaris tidak berarti lupa. Dan kaca memberiku biasnya. Dari kecil hingga menjadi besar. Hingga aku melihatnya lagi. Indah sekali. Seperti pelangi. Kali ini tidak samar-samar. Kali ini sejelas kaca. Dan sekuat. Dan serapuh kaca. Senyumku berbanding lurus dengan lukaku.

Musim hujan.

Cahayaku direbut. Oleh manusia jahat! Dan aku hanya memandang getir. Bodoh. Dungu. Sekali lagi. Aku tidak punya keberanian untuk membuat cahayaku benar-benar menjadi cahaya-ku. Cahaya-ku. Yang aku punya hanya kaca. Yang kehilangan pelanginya. Seperti aku yang kehilangan cahayaku. Berikan aku lilin. Berikan aku lilin. Aku butuh cahaya untuk melihat. Tidak. Aku butuh kau.

Musim panas.

Seterang musim panas sebelumnya. Sepanas musim panas di Jogja sebelumnya. Aku sudah tersenyum lagi. Tapi ingat. Rumusku masih berlaku. Senyumku berbanding lurus dengan lukaku. Jadi, jangan percaya ketika aku bilang, aku baik-baik saja. Sudah pasti itu bohong. Hentikan. Itu membuatku semakin terluka.

Musim hujan.

Aku suka hujan. Selalu suka hujan. Karena ada yang menemaniku menangis. Aku tidak cengeng sendirian. Dan hujan menghapus sedikit demi sedikit kenangan. Aku berharap aku adalah hujan. Yang membantu orang lain dengan tangisanku. Karena aku selalu terluka. Dan ceritaku, dimulai dan berakhir di musim hujan.

Advertisements