Wobblywobble

Marriage 101: Prosedur Daftar Nikah

Anggi & Anggoro – 13 Mei 2017 – That sacred book!

Been a while since my last time wrote in here, and hello again! Saya sudah resmi menjadi istri seseorang sekarang dan baaaanyak sekali yang ingin saya ceritakan dan sharing ke banyak orang apa-apa saja yang sudah saya lakukan dan ingin saya lakukan. Tapi sebelum jauh-jauh bercerita tentang kehidupan rumah tangga (yang bahkan baru saya jalani beberapa bulan saja -neeewbie-), saya mau sharing sedikit tentang proses daftar nikah (dengan cara muslim) mulai dari mengurus ke RT sampai terdaftar di KUA.

Semua dimulai dari Pihak Pria terlebih dahulu

Mulai dari nembak, melamar, sampai mengurus dokumen, memang harus pihak pria dahulu yang memulai hahaha. Saya juga baru tahu peraturan ini ketika saya ditolak pihak Kelurahan karena saya hanya membawa berkas-berkas saya tanpa berkas-berkas pihak pria.

1. Surat Keterangan Hendak Menikah dari RT/RW Setempat

Ini adalah berkas pertama yang kamu dan calon kamu butuhkan untuk mendaftarkan pernikahan kalian. Syarat yang perlu dibawa (dari pengalaman saya) hanya fotokopi C1 atau Kartu Keluarga pada tahap ini. Kamu harus menghubungi dan bertemu langsung dengan Ketua RT di tempat kamu tinggal untuk meminta Surat Keterangan Hendak Menikah sambil membawa fotokopi C1. Setelah surat dari RT didapat, surat tadi kamu bawa ke Ketua RW untuk ditanda tangani dan disahkan.

Tips: Proses ini dapat kamu lakukan paralel dengan calon kamu supaya efisien.

2. Blangko-blangko dari Kelurahan Setempat

Nah tahap ini harus diselesaikan oleh pihak pria terlebih dahulu. Pihak pria membawa Surat Keterangan RT/RW tadi ke Kelurahan domisili sesuai KTP calon manten (caten) pria, ditambah membawa fotokopi KTP, fotokopi C1, fotokopi Akta Kelahiran dan pas foto 2×3 (4 lembar) 4×6 (1 lembar). Semua berkas dikumpulkan ke pihak kelurahan, kemudian caten pria akan diberikan blangko N1 – N4 untuk dilengkapi dan disahkan oleh Lurah.

Tips: Usahakan untuk memeriksa dengan seksama semua datamu jangan sampai ada kesalahan nama dan data lain, karena berkas-berkas ini adalah sumber data KUA untuk membuat buku nikah kalian besok.

3. Surat Kehendak Menikah dari KUA Caten Pria

Setelah semua blangko lengkap dan sah dari Kelurahan, berkas-berkas di atas dibawa ke KUA domisili caten pria untuk dimintakan Surat Kehendak Menikah. Setelah caten pria mendapatkan Surat Kehendak Nikah dari KUA-nya, it’s all done for him hahaha sekarang saatnya berkas-berkas caten pria diserahkan seluruhnya kepada caten wanita.

Tips: Semua berkas awal difotokopi minimal 3 kopian untuk jaga-jaga. Dan setelah kalian selesai satu tahap dan mendapat berkas baru, berkas-berkas tersebut juga dikopi sampai beberapa kopian untuk cadangan dokumen dan supaya kalian tidak bolak-balik keluar apabila dimintakan kopiannya lagi.

4. Blangko dari Kelurahan Caten Wanita

Proses dan syarat disini sama dengan poin nomor 2, bedanya disini caten wanita harus membawa serta berkas-berkas caten pria sampai Surat Kehendak Nikah dari KUA. Selain itu, caten wanita juga harus membawa fotokopi KTP Wali Nikah, fotokopi C1 Wali Nikah dan fotokopi Buku Nikah ortu. Intinya caten wanita harus membawa berkas Calon Suaminya dan Siapa Wali Nikah-nya pada hari H. Disini caten wanita akan mendapatkan blangko seperti caten pria dengan tambahan surat pengantar Vaksinasi TT. Vaksin dapat dilakukan di RS pemerintah maupun di Puskesmas.

Tips: Vaksin ini sebaiknya dilakukan 1 bulan sebelum hari H pernikahan untuk hasil yang maksimal (menurut beberapa saran).

5. Surat Kehendak Menikah dari KUA Caten Wanita

Setelah semua blangko dari Kelurahan lengkap dan sah, caten wanita bisa membawa se-mu-a berkas-berkas tadi ke KUA domisili sesuai KTP untuk diperiksa dan dimintakan Surat Kehendak Menikah. Nah pada tahap ini ada dua jenis proses:

1. Menikah di rumah/KUA/gedung yang satu kecamatan dengan domisili KTP caten wanita, atau

2. Menikah di gedung yang berbeda kecamatan dengan domisili KTP caten wanita.

Apabila kamu menikah di rumah, kamu akan mendapatkan kepastian tanggal dan jam berlangsungnya akad nikah saat itu juga. Apabila kamu seperti saya, saya opsi nomor 2, karena saya menikah di Masjid Kampus UGM (Kecamatan Depok) sedangkan KTP saya Kecamatan Kotagede, kita akan lanjut ke tahap selanjutnya. Pada tahap ini saya minta Surat Kehendak Menikah dari KUA Kecamatan Kotagede.

6. Surat Numpang Nikah dari KUA Tempat Berlangsungnya Akad Nikah

Disini posisinya, saya akan minta Surat Numpang Nikah ke KUA Kecamatan Depok karena saya akan melangsungkan akad nikah di Masjid Kampus yang notabene masuk wilayah Depok. Saya membawa berkas-berkas di atas ke KUA Kecamatan Depok untuk mendaftarkan pernikahan saya. Ditambah Surat Sehat dari dokter untuk kedua caten. Bisa dari Puskesmas atau RS. Waktu itu saya minta surat sehat dari RS PKU Jogja (swasta). Disini saya dapat memastikan saya mendapat tanggal dan jam persisnya jam akad nikah saya. Oiya, proses ini dapat dilakukan jauh-jauh hari (bahkan bisa 1 tahun sebelum rencana akad nikah). Saya mendaftarkan pernikahan saya kurang lebih 3 bulan sebelum hari H. Sehingga saya sudah tenang menyebarkan undangan, karena saya sudah terdaftar dan Insya Allah sudah mendapatkan penghulu pada hari dan jam yang saya inginkan.

Tips: Caten Pria dan Caten Wanita kalau bisa datang bersamaan di tahap terakhir (tahap nomor 5 apabila nikah di rumah/KUA dan tahap nomor 6 apabila nikah di luar domisili) supaya memudahkan cross-check data terakhir.

Pada tahap ini, saya lebih banyak ‘diwawancara’ dibandingkan di tahap-tahap sebelumnya, karena saya datang sendiri tanpa caten pria hahahahaha. Saya ditanya sudah lulus belum, bekerja dimana, wali saya siapa (karena Ayah sudah tidak ada, wali saya adalah Adik saya), apakah adik saya itu benar-benar adik saya wkwkwk. Karena beliau bertutur banyak mahasiswa nekat yang mendaftarkan pernikahan tanpa sepengetahuan wali resmi mereka dan bawa wali nikah asal-asalan (what?! Jangan ditiru yaaa). Intinya saya lebih banyak ngobrol disini dan saya disuruh kembali lagi ke KUA Depok bersama caten Pria untuk cross-check data final. Karena apabila ada data yang salah di buku nikah, untuk memperbaikinya, kita harus melakukannya di Pengadilan Agama. It’ll takes more time, jadi lebih baik cek ulang berkali-kali datamu di KUA sebelum dicetak menjadi Buku Nikah.

Oh iya, ada satu surat yang saya belum bawa saat itu juga, yaitu Surat Keterangan Menjadi Wali Nikah dari Kelurahan domisili si wali nikah. Domisili adik saya di Kediri Jawa Timur, jadi saat itu yang mengeluarkan surat keterangan adalah Kelurahan Dandangan, Kediri. Prosesnya minta ke RT, RW lalu langsung ke Kelurahan.

7. Vaksinasi TT (khusus untuk Caten Wanita)

Saya melakukan vaksinasi di Puskesmas terdekat. Tips dari saya jika ingin melakukan vaksinasi di puskesmas, datanglah sebelum jam 11 siang. Saya baru tahu jika pendaftaran puskesmas tutup jam 11 dan puskesmas sendiri tutup jam 13 siang hahaha. Saya kira jam kerja puskesmas sama seperti kantor-kantor dinas pada umumnya, jam 15 atau 16 sore. Waktu itu saya datang jam 10.50 hahaha 10 menit sebelum tutup pendaftaran, untung saya masih diterima, sambil ditanya terus kenapa saya datangnya siang sekali. Padahal saya datang sebelum jam makan siang lho pak bu :”)

Jadi urutannya Vaksin TT lumayan panjang sih, luangkanlah 2-3 jam waktu kalian jika ingin vaksin di Puskesmas. Pendaftaran – bayar (saya lupa berapa, gak sampai 50rb kok) – dicek tensi, tinggi dan berat badan – cek laboratorium (cek urin) – ke poli gigi – ambil hasil lab – ke poli umum periksa hasil lab – ke poli gizi – ke poli psikologi (harusnya, tapi saya skip karena dokternya sudah pulang, katanya saya kesiangan wkwk) – baru divaksin TT suntik – dikasih resep asam folat – ke apotek tuker resep – selesai. Saya pulang jam 12.30 lah hahaha hampir 2 jam, yang lama bagian nunggu pindah-pindah dari poli satu ke poli lain.

8. Pembayaran Biaya Nikah

Sebenarnya biaya nikah apabila dilakukan di KUA dan pada jam kerja akan gratis. Tetapi jika dilakukan di luar KUA dan di luar jam kerja, maka akan dikenakan biaya Rp600.000,- dan termasuk dalam Penerimaan Negara Bukan Pajak. Akad nikah saya dilaksanakan hari Sabtu dan di luar KUA, sehingga saya harus membayar biaya PNBP di atas ke Bank BRI (tidak bisa via ATM, harus cash ke teller). Dan pembayarannya baru dapat dilakukan pada bulan kita menikah. Misalkan saya menikah bulan Mei, maka saya baru bisa membayar biaya nikah ke Teller Bank pada tanggal 1 Mei. Setelah kita melunasi biaya tersebut, blangko dari teller harus dibawa kembali ke KUA Depok (KUA tempat menikah) sebagai tanda bukti.

9. Kunjungan Final ke KUA

Ini seharusnya jadi kunjungan terakhir kalian ke KUA sebelum menikah. Dua berkas yang baru bisa dibawa sebulan sebelum hari H adalah Kartu Vaksinasi dan Tanda Bukti Bayar Biaya Nikah. Jadi saya menyusulkan kedua berkas ini lumayan mepet sih, awal bulan Mei padahal saya menikah tanggal 13 Mei. Tapi berkas saya yang lain Alhamdulillah sudah lengkap, jadi susulan yang ini menunggu setelah saya selesai bayar. Pada saat ini, saya dan caten pria juga kembali diminta cross-check data lagi kesekian kalinya untuk jaga-jaga. Alhamdulillah semua sudah benar dan akhirnya selesaaaaai proses pendaftaran pernikahan ini :)

Kesimpulan

Jadiiii dokumen-dokumen yang kamu perlukan untuk mendaftarkan pernikahanmu adalah:

  1. Fotokopi KTP kedua caten
  2. Fotokopi C1 kedua caten
  3. Fotokopi Akta Kelahiran kedua caten
  4. Pas Foto background biru 2×3 dan 4×6
  5. Fotokopi KTP wali nikah caten wanita
  6. Fotokopi C1 wali nikah caten wanita
  7. Fotokopi Akta Kelahiran wali nikah caten wanita (sepertinya ini tambahan saja)
  8. Fotokopi Buku Nikah ortu caten wanita
  9. Surat Keterangan Menjadi Wali dari Kelurahan domisili wali nikah caten wanita
  10. Surat Sehat dari Dokter untuk kedua caten

Sisanya akan kamu dapatkan seiring tahap-tahap ini kalian jalani. Oiya sharing ini khusus untuk calon manten warga sipil yaaaa. Untuk yang calonnya TNI atau Polisi sepertinya ada beberapa surat tambahan. Untuk yang calonnya WNA juga. Untuk yang calonnya Janda/Duda juga sepertinya ada dokumen tambahan. Bisa ditanyakan ke KUA setempat jika ingin lebih jelasnya.

Aaand it’s all done! Kamu dan calonmu sudah terdaftar di KUA cihiiiy :3 tinggal menunggu hari H atau mengurus keperluan resepsi mungkin yang gak kalah repotnya. Tapi kalau dilakukan berdua pasti lebih menyenangkan dan bahagia. Capek sih, tapi tidakkah momen ini momen yang kalian tunggu-tunggu? It’s all worth it, trust me!

Selamat berbahagia dan semoga bermanfaat :) sampai bertemu di 101 lainnya!

Advertisements

Morning Therapy

Sejak kecil, buku bukan momok menakutkan untuk saya. Buku apapun, asalkan ditulis dengan bahasa dan pemilihan frasa yang menarik, saya pasti betah membacanya. Dan beberapa pagi ini, saya kembali menikmati buku setelah sekian lama -seolah- tidak memiliki waktu membacanya.

Hanya novel. Yang menurut saya tidak hanya -hanya-. Banyak sekali novel-novel baru bertebaran di toko buku sana. Dengan judul mengundang dan grafis yang tidak kalah menariknya. Rasanya semua novel di toko buku sekarang tidak ada yang sampulnya tidak bagus. Don’t judge book from its cover; memang selalu menjadi quote paling benar sepanjang masa. Cover bagus isi jelek. Cover jelek isi bagus. Cover jelek isi apalagi. Cover bagus isinya lebih jelek lagi. Then you’ll never ever really know somebody’s heart, right?

Kemarin sore, saya diberi rezeki menikmati sunset dari Tebing Breksi yang jarang-jarang bisa aku dapat. Tapi toh rezeki melihat sunset ini relatif. Saya tiba di Breksi sekitar pukul 5 sore. Parkir di depan warung yang sudah pasti ramai karena Breksi kini populer. Saya sudah ditunggu kawan di atas tebing. Naik sekian puluh (lebay, mungkin hanya 20an hahaha) anak tangga tatahan batu, saya tiba di atas dan disambut sawah. Iya, sawah. Di atas tebing batu Breksi. Sawah ini punya tanah 40cm untuk menumbuhkan padinya, yang hanya panen setahun sekali.

Stop point pertama. Tebing tertinggi di Taman Breksi. Matahari sudah jingga tua, tapi belum terlalu turun.

Lalu saya lanjut berjalan naik sedikit lagi. Berbelok ke salah satu rumah warga. Seperti memiliki banyak anggota keluarga. Ada yang membakar kayu, mencuci baju, ada yang hanya sekedar duduk-duduk lalu menyambut kami. Kami berbincang sebentar. Lalu disuguh singkong rebus yang panas mengepul. Saya melihat jam, sudah 17.50. Sebentar lagi maghrib dan matahari pasti sudah hampir turun. Saya pergi sebentar ke samping rumah untuk menikmati sunset.

Subhanallah.

Di rumah sederhana ini, dengan bangku kayu seadanya, terasnya bukan keramik, keluarga ini -setiap hari- bisa menikmati sunset seindah ini. Garis horizon lurus hampir membentuk setengah lingkaran. Di kakinya, kelap-kelip kota, bahkan Bandara, terlihat. Saat itu langit cerah, hanya beberapa awan bergerumbul. Biru, jingga, putih, hijau, kelap-kelip tak terdefinisikan. Alhamdulillah, rezeki saya, batinku. Bahagianya keluarga ini.

Tapi, we’ll never ever really know somebody’s heart, right? Nyatanya anggota keluarga ini biasa-biasa saja menanggapi majestic view di samping rumahnya. Rumput liar dibiarkan setinggi paha orang dewasa, pohon pisang ditanam tepat di sisi jendelanya, seolah matahari cantik ini membuat silau kamar. Jika ini rumah saya, jika dan hanya jika. Saya sudah bilang rezeki melihat sunset ini relatif bukan?

Beberapa rezeki kecil bagi kita, mungkin bagi orang lain ada anugerah yang luar biasa. Itulah kenapa agama kita, selalu, selalu mengajarkan untuk selalu bersyukur. Seperti pagi ini, saya ada rezeki bisa membaca sekian halaman novel bagus dan menulis ini sebagai rehat pagi sebelum kembali beraktivitas.

Beberapa menit yang tenang, lambat, untuk menyelami sebuah kisah. Dan kemudian membuat kita bersyukur.

Masih ada 2,5 buku lagi yang memanggil-manggil untuk dibaca. Semoga ada rezeki waktu lagi lain kali.

Selamat pagi dari Jogja :)

Turning Point

Anyeong!

Sooooooooooo many things happened that there’s no way for me to write them all in one night. It has been a hard and great year back then. Alhamdulillah. There was soooo many lessons that I could learn.

And here we are! 2017.

The year that will be my massive turning point. A year that give me intense pressure since its first day. Bismillah :) There is so many many many huge decisions that I will make. Keeping myself busy chasing my dream, na, our dream :) This is just our start, isn’t it, A? We’ll soon have to through this adventurous journey together. As long as you are here with me, those years ahead will be so much fun! Wish us luck :)

Regards,

A&A

Kamu Cahaya

Ratusan hari ku mengenalmu
Ratusan alasan kamu berharga
Ratusan hari ku bersamamu
Ratusan alasan kamu cahaya

Semampuku kau akrab dengan senyum dan tawa
Semampuku tak lagi perlu kau takut cinta

Bila aku pegang kendali penuh pada cahaya
Aku pastikan jalanmu terang
Bila aku pegang kendali penuh pada cahaya
Aku pastikan jalanmu terang

Tak mudah lagi sendu mengganggu
Kau tahu cara buatku tertawa
Tak mudah kusut dalam kemelut
Kau tahu cara mengurai semua

Bila aku pegang kendali penuh pada cahaya
Aku pastikan jalanmu terang
Bila aku pegang kendali penuh pada cahaya
Aku pastikan jalanmu terang

Duhai cahaya terima aku
Aku ingin kau lihat yang kau punya
Aku ingin kau kembali bisa
Percaya pada diri dan mampumu

 

Tulus – Cahaya

Monokrom, 2016

Yes, definitely one of my favorite song (and album!!). He’s a genius. I’m a fan girl.

Yes, this is for you my A. :)

#17 FuturArc 2016: Gajah Wong Wasteland Park

S_220979_Gajah Wong Wasteland Park_Professional_Panel_01

S_220979_Gajah Wong Wasteland Park_Professional_Panel_02

S_220979_Gajah Wong Wasteland Park_Professional_Panel_03

S_220979_Gajah Wong Wasteland Park_Professional_Panel_04

Gajah Wong Wasteland Park

FuturArc International Competition 2016 – Professional Category

Main Theme: Small Thing, Big Impact

Competition Entry

Tim: Anggoro Setia Budhi, Ardianti Savitri Anggiasari (with Darmawan’s little touch in photoshop render, thankyou bro)

Untuk menyeimbangkan post-post sebelum ini yang mellow abis. Yang tampak sepertinya waktu dihabiskan untuk merenungi nasib. Tidak, tenang. Terlalu lelah produktif hingga tidak sempat lagi menulis seperti ini. Sekalinya menulis, untuk membuang unek-unek sampah yang kurang perlu.

Back then, saya masih cukup produktif di area ini :) meskipun belum menunjukan hasil-hasil pengakuan, tapi saya mulai suka dan cukup bahagia dengan produk yang kami buat. Beberapa kali brainstorming, beberapa ide, akhirnya yang terpilih ini (sila baca panelnya). Padahal mungkin masalah ini terlalu spesifik untuk tema besar FuturArc tahun ini. Topik ini tidak bisa disebar ratakan di daerah lain. Mungkin itu salah satu problemnya. Dan pengumuman pemenangnya menunjukan satu hal; ada ide kami yang sama persis yang pernah kami angkat ke brainstorming, ide yang hampir kami jadikan topik utama tapi tidak, ternyata masuk citation. Yah. Mana bisa iri. Hahahaha.

For those sleepless nights and super loooong night in Luxury; i’m happy with this product! As long as you are here as my partner :)

Tidak Boleh Iri

Kalau yang lain sudah bekerja keras, sementara yang sini masih sibuk lihat-lihat sepatu.

Kalau yang lain sudah mulai duluan, sementara yang sini masih ragu-ragu.

Kalau yang lain memilih jalan itu, sementara yang sini memilih jalan ini.

Your life is yours. Not theirs and not race. Simply do what your heart really want :)

Tidak boleh iri ya.

Lyfe

That time when you feel that lyfe is unfair.

The truth is lyfe never fair.

“You’ll never know someone’s life until you walk in their shoes.”

Walk in my shoes.

Don’t Give Up

Just don’t. Bertahanlah beberapa waktu lagi. You’re one step closer to your dream.

IMG_9179_a

Anw, sudah berhasil #SelfieDenganToga :) Alhamdulillah. Meskipun ini sebenernya bukan waktu wisudaku *sorry gue duluan* hahaha terima kasih sudah meminjamkan samir, toga, dan kesempatan menjadi pendamping wisudamu :)

#16 Sinarmas Land Residential 2015: Ayurveda Park

Panel_01

Panel_02

Panel_03

Panel_04

Panel_05

Panel_06

Panel_07

Panel_08

Panel_09

Panel_10

Panel_11

Panel_12

Ayurveda Park

Sinarmas Land Young Architect Competition 2015 – Residential Category

Competition Entry

Dewan Juri: Andra Matin – Sukendro Sukendar – Theodore Thenoch – dkk

Tim: Anggoro Setia Budhi, Darmawan Hartono Utomo, Ardianti Savitri Anggiasari, Akbar Azizul Hakim, Arsyi Arvin Afify

Kalau yang ini, dikerjakan sepenuh hati. Tapi masih belum beruntung :”)

Mungkin masih kurang inovasi dari segi desain dan keterbaruan. Mungkin kami masih stuck di aturan-aturan lama. Jadi pelajaran lagi bahwa kompetitor kami di sayembara sebesar ini tidak main-main. Jadi pekerjaan kami juga tidak boleh setengah-setengah.

Selamat membaca. Selamat bersemangat untuk mengikuti kompetisi lagi.

 

#15 Gedung Kemahasiswaan UGM IAI 2015: Studentorium

Bismillah Poster Studentorium_1

Bismillah Poster Studentorium_2

Bismillah Poster Studentorium_4

Bismillah Poster Studentorium_8

Studentorium UGM

Sayembara Gedung Kemahasiswaan UGM – IAI 2015

Competition Entry

Dewan Juri: Prof. Iwan Dwiprahasto, M.Med.Sc., Ph.D. – Ir. Ikaputra, M.Eng., Ph.D. – Ir. Jatmika Adi Suryabrata, M.Sc., Ph.D. – dkk 

Tim: Anggoro Setia Budhi, Darmawan Hartono Utomo, Ardianti Savitri Anggiasari, Andreas Janu Saktyo (feat. Robi Aria Samudra, S.T.)

Salah satu contoh sayembara yang tidak dikerjakan dengan fokus.

Salah dua sedang di studio TGA siap-siap mau sidang. Salah dua sedang mengerjakan draft Pra-TA. Yang punya nomor IAI sedang di Jakarta fokus di kantornya hahaha. Menyesal sih. Rasanya seperti merasa bersalah, kok anak UGM gabisa lolos sayembara di kandang sendiri. Meskipun di 5 besar ada yang dari UGM. Tapi banyak juga yang dari luar UGM.

Ngelesnya, karena anak UGM terlalu sering melewati site. Jadi tahu rasanya berada disana dan tidak berani untuk eksplor lebih jauh. Yah tapi entahlah. Sayembara ini seperti lewat begitu saja. Tidak terlalu banyak hujatan bentuk di awal-awal mendesain. Mengalir terlalu mulus. Semua setuju terlalu cepat. Mungkin karena di pikiran sudah banyak hal yang lain. Hingga akhirnya sayembara ini benar-benar lewat begitu saja. Tapi terlalu sayang jika tidak dibagi. Enjoy! Untuk siapapun yang sudi membaca.

ps. Panel ini seharusnya berjumlah 8 lembar. Tapi yang saya upload hanya segini saja.

Ah ya. Novemberku hilang. Bulan keempat. Sedih.